Sunday, 25 January 2009

The Power of Positive Attitudes

Meraih Kesuksesan dengan 7B

Harta, pangkat, dan jabatan yang sering kali dijadikan tolak ukur kesuksesan, dalam praktiknya kerap menjerumuskan orang pada kesesatan.Semoga Allah Yang Maha Agung mengaruniakan kepada kita kehati-hatian atas kesuksesan. Sebab, orang yang diuji dengan kegagalan ternyata lebih mudah berhasil dibandingkan mereka yang diuji dengan kesuksesan.
Banyak orang yang tahan menghadapi kesulitan, tapi sedikit orang yang tidak tahan ketika menghadapi kemudahan. Ada orang yang bersabar ketika tidak mempunyai harta, tapi banyak orang yang tidak bisa mengendalikan diri saat dikaruniai harta yang melimpah. Ternyata, harta, pangkat, dan jabatan yang sering kali dijadikan tolak ukur kesuksesan, dalam praktiknya kerap menjerumuskan orang pada kesesatan.
Apa sebenarnya kesuksesan itu? Boleh jadi setiap orang memiliki pandangan berbeda mengenai kesuksesan. Namun secara sederhana, sukses bisa dikatakan sebagai keberhasilan akan tercapainya sesuatu yang telah ditargetkan. Dalam pandangan Islam, kesuksesan tidak sekadar aspek dunia belaka, tapi menyentuh pula aspek akhirat.
Kesuksesan, setidaknya mencakup lima hal. Pertama, kalau aktivitas yang kita lakukan menjadi suatu amal. Apalah artinya kita banyak berbuat kalau tidak bernilai amal. Kedua, bila nama kita semakin baik. Apalah artinya kita mendapatkan uang, mendapatkan harta atau kedudukan kalau nama kita coreng-moreng. Ketiga, kalau kita terus bertambah ilmu, pengalaman, dan wawasan. Apalah artinya jika harta bertambah, tetapi ilmu dan pahala tidak bertambah. Bila ini yang terjadi, kita hanya akan terjebak oleh harta yang kita miliki.Keempat, kita disebut sukses kalau kita dapat menjalin silaturahmi dengan orang lain, sehingga bertambah saudara. Apalah artinya mendapatkan uang dan kedudukan, tetapi musuh kita bertambah banyak. Dengan terjalin silaturahmi, insya Allah akan semakin banyak orang yang mencintai kita. Bila orang sudah cinta, maka ia akan mengerahkan ilmunya untuk menambah ilmu kita, mencurahkan wawasannya untuk mengembangkan wawasan kita, serta memberikan tenaga dan hartanya untuk melindungi kita.Kelima, kita disebut sukses bila pekerjaan yang kita lakukan dapat memberikan manfaat yang besar kepada orang lain. Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling banyak manfaatnya". Semakin banyak menjadi jalan kesuksesan bagi orang lain, maka semakin sukseslah diri kita.Pada hakikatnya kesuksesan itu milik setiap orang. Yang menjadi masalah, tidak semua orang tahu bagaimana cara mendapatkan kesuksesan itu.
Setidaknya ada tujuh formula yang dapat kita lakukan untuk meraih kesuksesan tersebut. Saya menyebutnya dengan 7B. Ketujuh teknik ini harus ada semuanya, jika salah satu tidak ada, maka belum bisa dikatakan sebuah kesuksesan.
B pertama, beribadah dengan benar. Ibadah adalah fondasi dari niat, fondasi dari track yang akan kita buat. Siapapun yang ingin membangun kesuksesan, ia harus memperbaiki ibadahnya. Perbaiki, terus perbaiki ibadah. Siapa yang akan membimbing kita jika ibadah kita buruk? Siapa yang akan melindungi kita dari ketergelinciran kalau ibadah kita tidak jalan? Bukankah Allah SWT berjanji akan menolong orang-orang yang ibadahnya baik. Intinya, ibadah adalah fondasi yang akan membuat kita agar senantiasa terjaga dalam jalur yang tepat.
B kedua, berakhlak baik. Akhlak yang baik adalah bukti dari ibadah yang benar. Apapun yang kita lakukan, kalau dilandasi akhlak yang buruk niscaya akan berakhir dengan kehancuran. Apa yang dimaksud akhlak yang baik itu? Merespons segala sesuatu dengan sikap yang terbaik.
B ketiga, belajar tiada henti. Karena itu, pertanyaan yang harus kita ajukan adalah apakah kita menyukai belajar? Setiap hari masalah bertambah, kebutuhan bertambah, dan situasi berubah. Bagaimana mungkin kita menyikapi situasi yang terus berubah dengan ilmu yang tidak bertambah!
B keempat, bekerja keras dengan cerdas dan ikhlas. Curahan keringat tak selalu identik dengan kesuksesan. Berpikir cerdas adalah merupakan bagian dari kerja keras. Pada prinsipnya, sebuah hasil yang maksimal akan diraih bila kita mampu mengaktualisasikan ibadah, akhlak, dan ilmu kita dalam pekerjaan yang berkualitas.
B kelima, bersahaja dalam hidup. Ini poin yang sangat penting. Banyak orang bekerja keras dan mendapatkan apa yang dia inginkan, tetapi dia tidak dapat mengendalikan dirinya. Bersahaja itu bukan miskin, bersahaja adalah menggunakan sesuatu sesuai keperluan. Dengan bersahaja kita akan memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri dengan tidak diperbudak keinginan.
B keenam, bantu sesama. Gemar membantu orang lain adalah tanda kesuksesan. Kita harus gigih agar kelebihan yang kita miliki dapat menjadi nilai tambah bagi sesama.
B ketujuh, bersihkan hati selalu. Bila hati kita berpenyakit, maka akan tumbuh rasa ujub, ria, sum'ah, takabur, dan lainnya. Kondisi ini akan membuat amal-amal kita tidak berarti; tidak indah lagi di dunia dan tidak berkah lagi untuk akhirat. Allah SWT berfirman, Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat (QS. Asy-Syu'ara: 88-89).Andaikata formula ini kita lakukan dengan baik, Insya Allah akan berdampak untuk kesuksesan diri, berdampak pada lingkungan, dan pada saat yang sama berdampak pula pada kesuksesan kita di akhirat. Wallahu a'lam bishawab.

KH Abdullah Gymnastiar/dokrep/Agustus 2004

By Republika NewsroomJumat, 09 Januari 2009

Tuesday, 30 September 2008

RENUNGAN QOLBU AKHIR RAMADHAN 1429 H

1. Di ujung Ramadhan tahun ini, yang kebetulan Ramadhan ke 2 di negeri Kincir Angin, ingatan kami terusik pada moment Ramadhan 1426 H tahun 2005 saat di Australia. Saat sholat Idul Fitri di kota Birsbane, kami berjumpa dengan banyak komunitas Indonesia, termasuk mahasiswa/ mahasiswi yang sedang menempuh study lanjut di berbagai kota di Queensland. Dua hal yang kami renungkan adalah betapa ramah dan hangat bersahabatnya sanak saudara kita yang masyarakat biasa dan telah tinggal disana, baik yang karena berumah tangga dengan warga Australia maupun yang bekerja dan mengadu nasib di negeri kanguru. Mereka dengan antusias dan senyum cerah mau berjabat-tangan, bertegur-sapa dan berfoto-ria bagaikan saudara kandung dari jauh yang lama tidak berjumpa sehingga ada rasa kangen yang menggebu. Bahkan kami dijemput oleh salah satu keluarga yang sama sekali belum pernah kenal atau bertemu sebelumya.
Di lain sisi, kami menangkap betapa ‘angkuh’ nya saudara-saudara rekan kita yang mungkin berstatus mahasiswa yang, karena mungkin merasa orang hebat atau merasa orang-orang terpilih dari Indonesia, merasa orang-orang yang nanti akan 'berkedudukan' tinggi di universitas-universitas atau di kantor-kantor berbagai instansi, sehingga mereka nampak enggan dan tidak berminat untuk beramah tamah dengan orang biasa seperti kami. Mereka ‘terlihat’ jumawa sambil mengobrol dan tertawa-tawa penuh ‘ ketinggian’ dengan tangan di pinggang dan didekapkan ke dada dan tidak menghiraukan kami yang merasa berbahagia bila bisa bersilaturahmi dengan siapa saja, apalagi sesama ‘wong’ Indonesia di negeri orang. Ketika persiapan sholat di tanah lapang berumput di luar masjid, sebagai orang desa yang terbiasa dengan gotong royong, kami sibuk membantu dan berakrab ria dengan para ta’mir masjid yang kebanyakan adalah komunitas Timur Tengah untuk menyiapkan tempat, dari mulai menggelar tikar dan mengangkut sound system. Namun, saudara-saudara mahasiswa yang ‘mulia’ itu, bahkan kami tahu dan pernah ‘kenal’ dalam dinas salah satu dari mereka adalah seorang pendidik di salah satu PT swasta di sebuah kota di Jawa Tengah bagian barat, sama sekali tak tergerak untuk melakukan pekerjaan yang mungkin dianggap hina dan tak layak untuk dilakukan oleh tenaga dan tangan-tangan orang-orang penting itu.

2. Ramadhan adalah bulan penuh rahmat, berkah dan maghfirah. Buka bersama adalah moment yang sesungguhnya dapat mengundang dan menjadi wasilah turunya anugrah-anugrah Illahi tersebut. Dengan silaturahmi, jabat tangan, tegur sapa dan senyum tulus saling bertebaran, apalagi bila dilanjutkan dengan tausiyah, pengajian, sholat atau do’a bersama sungguh akan menambah kesyahduan dan intensitas ibadah siapapun yang berpuasa di bulan mulia ini. Semua menjadi moment indah yang mungkin tak bisa ditemui di bulan-bulan lainnya. Kami menyesal dan mohon ampun kepada Allah SWT apabila yang kami renungkan ini hal yang salah atau dosa.
Dalam dua kesempatan Ramadhan di negeri tulip ini, kami ditakdirkan dan diberi kesempatan membaca ’keanggunan’ buka puasa bersama yang sempat kami alami di aula kantor perwakilan. Kerumunan, keramaian dan antrean panjang dan lama akan terjadi khususnya saat-saat menambil minuman, jajanan dan atau makanan. Kenikmatan dan kebahagiaan berbuka puasa kadang sirna, ...astaghfirullah..., akibat menunggu antrian minum atau makan terlalu lama dan kesabaran kita benar-benar diuji karenanya. Apalagi kalau tiba giliran kita sudah sampai di depan wadah-wadah panganan ’stock’nya sudah habis atau menipis serta antrian masih panjang, aneka-warna rasa menjadi satu, antara ’kecewa’ tidak kebagian dan ’kasihan’ pada orang di belakangnya kalau mereka tidak kebagian ’jatah’.
Walaupun ibadah adalah urusan dan hak pribadi, namun nampaknya ’bibit dosa’ selalu menghantui kami saat hati ini tergelitik dan bathin ini tergoda untuk beburuk sangka saat kami tahu bahwa antrean, keramaian dan kerumunan besar itu hampir selalu tidak ada lagi saat waktu sholat, pengajian/tausiyah dan do’a bersama. Kebersamaan, wajah-wajah ceria penuh senyum dan canda-tawa saat menikmati santapan buka puasa dan kehangatan keakraban yang menyejukan jiwa yang selalu kami rindukan kehadiranya ternyata tidak bisa dinikmati sampai akhir acara ...karena hanya sebagaian kecil saja yang tersisa.... Allah Maha Memberi, Maha Mencukupi dan Maha Mengasihi dan memang dunia selalu baik hati dan bersahabat bagi siapapun yang menginginkannya.

3. Nun jauh di salah satu kabupaten di Jawa Timur di pertengahan bulan Ramadhan tahun ini, ada mahluk 'spesies' manusia yang tega menganiaya rakyat jelata ...kaum faqir miskin papa..., bahkan 'membunuh' puluhan diantaranya akibat tergencet dan terinjak injak oleh kerumunan yang ‘sengaja’ dibuat, dengan kemasan berderma membagi zakat. Tiada kata dan dalih yang layak untuk menggambarkan tragedy ini, kecuali si mahluk yang merasa kaya itu ingin diketahui dan diakui oleh khalayak sebagai hartawan yang dermawan dan agamis. Di qolbunya telah bertahta raja dan pembisik kesombongan dengan senjata jubriyanya ( ujub dan riya ). Baginya, ketenaran, kemashyuran, pengakuan, dan perasaan tinggi-hebat-terhormat adalah puncak kejayaan dan kebahagiaan dunia dan makanan jiwa yang lezat-bergizi yang harus digapai dan dipujanya. Semoga Allah SWT melidungi dan menyelamatkan kami dari penyakit-penyalit hati itu.





den haag, 30-09-08


hambasahaja










Sunday, 24 August 2008

A MUST DIE - CREATURE ... ( 2 ) ...

Puasa Itu Sederhana
Dalam rangka menggapai ketakwaan sebagai tujuan berpuasa, ada baiknya sesekali melakukan perenungan yang mendalam terhadap niat dan perilaku kita. Niat bukan hanya sekadar kemauan (wants, interest, desire), tetapi sebuah komitmen, sebuah akad yang mengilhami seluruh relung jiwa yang melahirkan kesungguhan (jihad), tekad dan nyala api yang tak pernah padam. Niat merupakan dorongan yang maha kuat, sebuah motivasi (berasal dari bahasa Latin, movere yang artinya bergerak keluar, senada dengan kata emovere, emosi) untuk mewujudkan seluruh harapan dalam bentuk tindakan. Kualitas pekerjaan seseorang sangat ditentukan oleh kualitas niatnya. Begitu juga dengan berpuasa. Kita diminta untuk memasang niat berpuasa, sebuah dorongan dan nyala api untuk melaksanakan puasa dalam arti yang utuh, yaitu ibadah yang bersifat personal dan sekaligus sosial. Bersifat personal, dikarenakan puasa merupakan bentuk pencerahan batin (Tarbiyatul Qolbi).
Hati yang telah tercerahkan akan berbinar cahaya (nur) sehingga dia mengetahui secara jelas (karena diterangi cahaya), mana yang hak dan mana yang batil. Puasa akan melahirkan kejujuran, amanah dan menumbuhkan semangat pelayanan (sense of servitude) yang sangat tinggi. Penghambaan dirinya kepada Allah yang dinyatakan setiap hari minimal 17 kali (iyyaka na'budu) diterjemahkannya dalam bentuk perilaku yang aktual dengan cara menunjukkan sikap pelayanan yang bertanggung jawab ( stewardship ). Ini semua bermula dari niat yang disertai dengan ilmu dan arah yang benar. Nabi bersabda: "Barangsiapa yang berpuasa dengan iman dan penuh perhitungan, akan diampuni dosa-dosanya." Dari hadis ini tampaklah bahwa iman merupakan dasar dipasangnya niat yang disertai ihtishab sebagai proses penelitian bahkan menguji diri sendiri (self examination). Sehingga, kualitas niat berpuasa akan melahirkan dua hal besar yang akan merubah sikap hidupnya. Pertama, niat berpuasa karena rasa cinta dan rindu yang teramat sangat untuk menghadirkan wajah Allah, sehingga mereka hanya memalingkan seluruh harapan dan tindakannya untuk selalu berpihak di jalan Allah (Al Shirath Al Mustaqiim). Kedua, mereka mewujudkan niatnya tersebut dalam bentuk sikap hidup sederhana bahkan melatih untuk hidup berkekurangan, sebagaimana doa Rasulullah: "... Yaa Allah, jadikanlah hamba kenyang sehari dan lapar sehari. Agar pada saat perut kenyang, hamba mau bersyukur, dan ketika lapar hamba menjadi orang yang sabar." Para assabiqqunal awwalun ( path finder ) menjadikan sikap hidup sederhana ( wara' ) sebagai hiasan perilaku hidupnya.
Pada suatu saat Umar bin Khattab ditanya, "Kenapa Anda makan gandum yang kasat dan berpakaian sangat sederhana. Dan Anda hanya minum air putih setiap hari, padahal Anda adalah Al Farouk-Pemimpin umat yang besar?" Umar bin Khattab menjawab: "Aku menjadi pemimpin ini dipilih oleh rakyat, di antara mereka masih banyak yang hidup sangat sederhana bahkan dalam keadaan miskin. Tidak pantas seorang yang dipilih rakyat, makan dan minum serta berpakaian melebihi rakyatnya!" Puasa telah melahirkan pribadi-pribadi yang berakhlak mulia ( noble paragon ). Puasa telah melahirkan tipikal para pemimpin masa lalu yang hidup sederhana bahkan berkekurangan, karena dia menjaga diri ( iffah ) agar tidak diperbudak oleh dunia.
Toto Tasmara/hikmah/republica.online/2008-08-15 14:56:00

Friday, 8 August 2008

A MUST DIE - CREATURE ... ( 1 ) ...

Membangun Kepedulian

Apapun dan siapa pun tidak boleh kita remehkan karena kita tidak pernah tahu kapan kita akan terus berada di atas dan kapan kita akan berada di bawah. Awal membangun kepedulian bisa dengan menghilangkan superioritas dalam diri kita, bahwa kita punya sesuatu yang berlebih dari manusia yang lain, lalu dengannya kita berlaku semena-mena.
Kepedulian bisa dibangun melalui satu keyakinan bahwa kita adalah makhluk yang tak akan pernah bisa hidup sendiri, dan karenanya butuh kehadiran yang lain. Lalu dengan sikap ini kita bangun keutuhan kehidupan dengan saling memperhatikan. Inilah mungkin sebagian dari kunci untuk bisa menghargai dan peduli terhadap sesama. Kita sebagai manusia tentu berkehendak untuk disayang, maka sayangi yang lain. Kita sebagai manusia butuh diperhatikan, maka sudilah berbagi perhatian. Begitu seterusnya.
Berbicara mengenai kepedulian dan perhatian, ia menjadi karakter para nabi yang sulit dicari bandingannya. Contoh kisah Sulaiman AS, seorang nabi sepeninggal Nabi Daud. Sulaiman dikisahkan pernah begitu kehilangan Hud Hud, padahal Hud Hud hanyalah seekor burung kecil dan bukanlah dari golongan pembesar. Ketidakadaan Hud Hud dalam barisan yang sedang diperiksanya, membuat Nabi Sulaiman langsung mempertanyakan keberadaannya kepada yang lain. (QS: An Naml 27: 20-21). Di kemudian hari sejarah menunjukkan, ”burung kecil” itu mampu membawa perubahan yang begitu besar bagi kerajaan Nabi Sulaiman. Rasa terima kasihnya Hud Hud, karena telah diperhatikan Nabi Sulaiman, membuat Hud Hud rela mengabdikan dirinya bagi kemajuan kerajaan Nabi Sulaiman. Kisah dalam surat An Naml 27: 20-44, Hud Hud yang mengantarkan Nabiyallah Sulaiman hingga kemudian bertemu dengan Ratu Saba.
Sikap Nabi Sulaiman kepada Hud Hud menunjukkan kepada kita, perhatian akan menumbuhkan kasih sayang, perhatian akan menumbuhkan kepedulian. Kisah itu juga memberikan kesan mendalam bagi pendatangnya di kemudian hari, betapa kita tidak boleh menyepelekan apapun dan siapa pun. Kita bisa menjadi besar lantaran ada yang kecil, atau seseorang bisa menjadi kaya karena ada yang miskin. Semuanya saling melengkapi keberadaannya satu sama lain. Sikap yang diajarkan Nabi Sulaiman pun mengajarkan satu hal mendasar dalam membina hubungan antarsesama makhluk, apalagi sesama manusia, bahwa kebersamaan sering terbangun dari hal-hal yang kecil, termasuk muncul dari sebuah perhatian.
Teladan Nabi
Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang punya banyak sisi menarik yang bisa digali sehubungan dengan sikapnya yang memang penuh perhatian terhadap ummatnya. Muhammad adalah seorang nabi dan rasul terakhir, dia seorang pembesar. Tapi sebagaimana kita ketahui dari sejarah, beliau adalah orang yang selalu menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan di sekitarnya. Termasuk hal kecil seperti menyapa. Baginya, yang terbaik adalah mereka yang memberi salam terlebih dahulu.(Al Hadits). Salah satu sisi menarik tersebut diceritakan, Rasul pernah ”kehilangan” seorang Yahudi, ketika beliau tidak dapati lagi Yahudi itu yang biasanya meludahinya di setiap keberangkatannya ke masjid. Selidik punya selidik, ternyata Si Yahudi sakit keras. Rasul lantas menjenguknya! Tidak ada sikap dendam. Bahkan dengan menjenguknya, Rasul ingin mengatakan ia berbeda dan ia tidak pantas untuk dijadikan musuh. Sikap luar biasa yang ditunjukkan Rasul tersebut, membuat Si Yahudi mengikrarkan kesaksiannya atas kebenaran ajaran yang Rasul bawa. Tidaklah salah jika Rasul pernah berpesan, bahwa berbuat baik kepada yang baik adalah suatu keharusan, tapi berbuat kebaikan kepada mereka yang jahat adalah tindakan yang sudah mencapai derajat ihsan, derajat kesempurnaan iman.(Al Hadits).
Perhatian Rasul kepada sesamanya adalah satu bagian yang tidak bisa terpisahkan ketika seseorang bercerita tentang kepribadian beliau. Hingga di akhir hayatnya, ia masih saja mengingat ummatnya, dan menitipkan pesan terakhirnya kepada sayyidatina Aisyah dan Ruhul Quds, Jibril, mengenai nasib ummat yang akan ditinggalkannya, ”... ummati, ummati, ummati..., ummatku... ummatku ... ummatku.” Oleh karenanya, beliau selalu menganggap mereka yang tidak pernah peduli kepada sesamanya dan tidak pernah mengulurkan tangan kepada orang yang membutuhkan adalah bukan bagian dari ummatnya dan juga bukan bagian dari orang-orang yang akan memperoleh perlindungan kelak di hari akhir, hari tiada perlindungan selain perlindungan Allah dan Rasul-Nya.
Kepribadian Nabi Sulaiman dan Nabi Muhammad ini, sangat sulit bisa kita temukan pada sikap sebagian besar pimpinan kita. Perhatian pimpinan kita, mulai dari yang terendah hingga yang tertinggi, adalah untuk diri mereka sendiri (mudah-mudahan saya salah), tak pernah mau berbagi untuk masyarakatnya. Mereka ini senantiasa terus meminta diperhatikan, jarang sekali mau memperhatikan. Seketika mereka bisa be frantic, kebakaran jenggot, jika eksistensi kedudukan dan jabatannya terganggu. Tapi bisa dengan sangat tenang, tidak pernah tergerak hatinya jika eksistensi kemanusiaan masyarakatnya terabaikan. Begitu jugalah sikap sebagian besar kita. Kita juga seringkali hanya memperhatikan mereka yang ”sekelas” saja. Seakan haram untuk peduli kepada lapisan yang lebih bawah. Kita juga tidak pernah show interest in any problem atas apa yang terjadi di seputar kita. Bencana demi bencana yang terjadi di belahan bumi pertiwi yang sedang menangis ini seakan justru menjadi tontonan seru di layar kaca. Kejadian demi kejadian menyedihkan -- kelaparan, kebanjiran, tanah longsor dan sebagainya -- yang seharusnya mengetuk mata hati dan pintu nurani, justru menjadi bacaan seru di media masa.Tumbuhkan semangat berbagi dan munculkan kepedulian dan kasih sayang. Karena begitu pulalah Allah, Tuhan kita, bersikap kepada kita.
Obat Mujarab
Dalam kaitannya dengan keluar dari kemelut hidup, kemampuan melihat mereka yang lebih di bawah, menjadi obat yang mujarab juga buat mengatasi kesedihan hidup. Banyak di antara kita yang merasa susah, karena mikirnya tentang kesusahan diri sendiri saja. Ketika ia bisa melihat kesusahan orang lain, akan tampaklah kesusahan dirinya tidak ada apa-apanya dibandingkan orang lain. Orang-orang yang ingin keluar dari kemelut hidup, juga harus mampu mensyukuri banyak-banyak hal-hal yang lebih yang dikaruniakan Allah kepadanya. Sebab kalau hanya melihat hal-hal yang menyedihkan, jangan-jangan dia hanya akan menyumpahi Allah atas kesedihannya. Ada terlalu banyak karunia Allah yang lain, yang harus lebih disyukuri. Insya Allah kemelut hidup tidak akan terasa. Banyak melihat ke bawah, dan banyak bersyukur, akan mempercepat diri keluar dari kemelut hidup.
Jika kepedulian sudah tidak ada di dalam hati kami, maka Engkau pun menjauh. Jika kasih sayang sudah tidak ada di dalam hati kami, maka Engkau pun menjauh. Jika kami tiada bersyukur kepada-Mu, tiada beribadah kepada-Mu, maka menjauh jugalah Engkau. Ya Allah, apalah lagi kerugian bagi seorang hamba, bila Engkau Yang Maha Membantu, sudah menjauh? Ya Allah, apalah lagi kerugian bagi seorang hamba, bila Engkau Yang Maha Mengasihi Maha Menyayangi, sudah menjauh? Ya Allah, apalah lagi kerugian bagi seorang hamba, bila Engkau Yang Maha Disembah, sudah menjauh? Rabb, jangan jauhkan kami dari diri-Mu. Amin.(77)

Kolom Ustad Yusuf Mansur
suaramerdeka.com: 08 Agustus 2008

Friday, 18 July 2008

SOUL HEALING DEWS ...( 9 )...

Pengemis buta dan Rasulullah
Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.
Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.
Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya Kepada anaknya itu, Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?
Aisyah RA menjawab,Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja. Apakah itu?, tanya Abubakar RA. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana, kata Aisyah RA.
Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, sipengemis marah sambil menghardik, Siapakah kamu? Abubakar RA menjawab,Aku orang yang biasa (mendatangi engkau). Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku, bantah si pengemis buta itu.
Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku, pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.
Seketika itu juga pengemis itu pun menangis mendengar penjelasan Abubakar RA, dan kemudian berkata, Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia....
Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.
Nah, wahai saudaraku, bisakah kita meneladani kemuliaan akhlaq Rasulullah SAW? Atau adakah setidaknya niatan untuk meneladani beliau? Beliau adalah ahsanul akhlaq, semulia-mulia akhlaq. Kalaupun tidak bisa kita meneladani beliau seratus persen, alangkah baiknya kita berusaha meneladani sedikit demi sedikit, kita mulai dari apa yang kita sanggup melakukannya. Sebarkanlah riwayat ini ke sebanyak orang apabila kamu mencintai Rasulullahmu...

Pengirim: Nazarudien
Satgas ICT Dit. PSLB Depdiknas RI

Thursday, 19 June 2008

SOUL HEALING DEWS ...( 8 )...

Bersyukur dalam Kesempitan

''Dan, hanya sedikit di antara hamba-hamba-Ku yang mau bersyukur.'' (QS Saba' [34]: 13).
Dengan wajah sedih, seorang laki-laki datang kepada seorang ulama. Dia mengeluhkan kefakiran dan berbagai kemalangan hidup yang dialaminya. Ulama tersebut berkata, ''Apa kamu mau penglihatanmu diambil dan diganti dengan seribu dinar?'' Orang itu berkata, ''Tidak.''
Sang ulama bertanya lagi, ''Apa kamu senang menjadi orang bisu dan diberi seribu dinar?'' Orang tersebut menjawab, ''Tidak.'' Sang ulama yang dikenal saleh itu kembali bertanya, ''Apa kamu mau dua tangan dan dua kakimu buntung, lalu kamu mendapatkan dua puluh ribu dinar?'' Orang tersebut lagi-lagi menjawab, ''Tidak.''
''Apa kamu mau jadi orang gila dan dikasih sepuluh ribu dinar?'' tanya sang ulama lagi. Dan, sekali lagi orang tersebut mengatakan, ''Tidak.'' Maka, sang ulama bijak itu pun berkata, ''Terus, apa kamu ini tidak malu kepada Tuhanmu yang telah memberimu harta senilai puluhan ribu dinar?'' Kisah ini berbicara, betapa banyak orang salah persepsi, dikiranya nikmat hanya sebatas harta dan materi semata. Mereka tidak menyadari bahwa nikmat Allah meliputi segala hal: keimanan, kesehatan, keluarga, tempat tinggal, kepandaian, teman yang baik, pemimpin yang adil, tumbuh-tumbuhan, makanan, dan sebagainya. Itu semua adalah nikmat yang harus disyukuri, baik kita memintanya maupun tidak.
Untuk menjadi orang bersyukur, setidaknya ada tiga syarat yang harus dipenuhi. Pertama, mengetahui apa itu nikmat dan meyakini sepenuhnya bahwa nikmat tersebut adalah pemberian Allah. Kedua, bahagia dan gembira dengan nikmat yang Allah berikan kepada kita. Dan, ketiga, melakukan hal-hal yang disukai oleh Pemberi Nikmat, baik melalui lisan dengan ucapan ''Alhamdulillah'' maupun melalui perbuatan-perbuatan yang disukai-Nya.

(Abduh Zulfidar Akaha )
hikmah/republika.co.id
Sabtu, 31 Mei 2008

Saturday, 31 May 2008

SOUL - HEALING DEWS ..(7)..

SUMBER SEGALA DOSA

Nabi SAW bersabda, ''Tiga hal yang merupakan sumber segala dosa, hindarilah dan berhati-hatilah terhadap ketiganya. Hati-hati terhadap keangkuhan, karena keangkuhan menjadikan iblis enggan bersujud kepada Adam, dan hati-hatilah terhadap tamak (rakus), karena ketamakan mengantar Adam memakan buah terlarang, dan berhati-hatilah terhadap iri hati, karena kedua anak Adam (Qabil dan Habil) salah seorang di antaranya membunuh saudaranya akibat dorongan iri hati." (HR Ibn Asakir melalui Ibn Mas'ud).
Jiwa manusia diliputi oleh sifat takabur pada saat manusia merasa memiliki kelebihan, baik berupa ilmu pengetahuan, harta benda, ataupun jabatan. Dalam keadaan seperti ini, setan tidak akan tinggal diam, dia akan membisikkan dan memasang perangkap untuk menjerumuskan manusia dengan melakukan tindakan yang tidak terpuji. Seperti, mencela, menghina, dan merendahkan orang lain.
Sifat kedua yang diingatkan pada kita untuk mencermatinya adalah sifat tamak (rakus). Sering kali kita melihat betapa rakusnya manusia dalam mempertahankan apa yang sedang dalam genggamannya, baik berupa harta, kekuasaan, ataupun kedudukan. Sama sekali ia tidak mau berbagi dan hanya mau dinikmati sendiri. Ia tidak pernah merasa cukup dan tidak pernah bersyukur atas apa yang diperolehnya.
Padahal, Allah SWT menjanjikan dan mengingatkan berulang kali kepada manusia bahwa sekecil apa pun perbuatan baik yang kita lakukan tidak akan sia-sia. ''Barang siapa yang mau berbuat baik walau sebesar biji dzara pun Allah SWT akan membalasnya.'' (QS Alzalzalah [99]: 7).
Ketiga, hasud atau iri hati. Dengki atau iri hati adalah perasaan tidak rela atau tidak suka melihat orang lain mendapatkan kebaikan atau kenikmatan. Ketika dalam diri manusia telah tertanam sifat dengki, ia akan menghalalkan segala cara untuk menghancurkan orang yang ia dengki. Ia tidak senang melihat orang lain sukses, pintar, hidup bahagia, dan lebih kaya darinya. Sikap seperti ini akan menghapus segala bentuk kebaikan yang selama ini ia peroleh. Perbuatan baiknya akan sia-sia karena dalam dirinya terdapat sifat iri hati. Takabur, tamak, dan hasud merupakan tiga perangai buruk yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan yang tidak terpuji. Karena itu, Rasulullah SAW selalu mengingatkan kepada kita untuk menjauhi tiga hal yang menyebabkan manusia terjerumus dalam tipu daya setan. Wallahu a'lam bish-shawab.
Hikmah Republika.co.id/ Jumát, 30 Mei 2008
Oleh : Rahmat Hidayatullah

Saturday, 3 May 2008

SOUL - HEALING DEWS ..(6)..

Tawadhu

"Tiada satu pun karunia yang diperoleh seseorang yang bersikap tawadhu kepada Allah, kecuali Allah meninggikan derajatnya." (HR Muslim).
Hadis di atas menjamin ganjaran yang bakal diterima seseorang jika tawadhu. Menghilangkan kesombongan, tinggi hati, merasa hebat, dan segudang penyakit hati lainnya. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun seberat biji sawi." (HR Abu Dawud).
Manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Pemahaman yang benar terhadap hal tersebut seharusnya tidak melahirkan orang kaya yang merasa lebih hebat dibanding lainnya. Pejabat merasa lebih terhormat ketimbang rakyat biasa, kiai merasa lebih benar daripada santrinya, atau generasi tua merasa lebih tahu ketimbang yang muda.
Hadis di atas seharusnya cukup membuat kita sadar dan takut. Shalat, puasa, zakat, haji, dan segudang amal saleh lainnya tidak menjamin kita masuk surga jika di dalam hati kita masih ada setitik kesombongan.
Bahkan, pejabat setingkat presiden pun tidak berhak sombong. Hal ini dikisahkan dalam hadis riwayat Ibnu Majah. Diceritakan seseorang yang gemetar ketakutan ketika menemui Rasulullah yang dipersepsikan sebagai raja diraja. Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh hina engkau.
Sesungguhnya, aku bukanlah seorang raja. Aku hanyalah anak seorang wanita yang memakan dendeng di Makkah." Subhanallah, betapa agungnya ketawadhuan Nabi SAW. Muhammad bin Abdullah yang seorang Nabi, kepala negara, kepala pemerintahan, raja, panglima militer, pengusaha sukses, pendidik, dan manusia yang dijamin masuk surga tidak membuatnya sombong sedikit pun.
Ketawadhuan Beliaulah yang patut diteladani, diikuti, dan ditiru. Seperti telah disebut dalam Alquran surat Alahzab ayat 21, "Sesungguhnya, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang berharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."
Marilah membuang jauh-jauh kesombongan dalam menjalani hidup yang singkat ini, seberapa pun hebatnya kita. Karena, sesungguhnya kekayaan, jabatan, ilmu, tubuh yang sempurna, wajah cantik, kecerdasan, dan bahkan anak istri kita adalah milik Allah yang dititipkan pada kita.
Sesungguhnya, orang yang berlaku tawadhu zaman sekarang ini sangatlah sedikit. Apakah kita termasuk di antara mereka?
kolom hikmah republika.c0.id
28 April 2008 oleh Karyanto Wibowo

Sunday, 20 April 2008

RENUNGAN RAKYAT JELATA ( 1 )

LOGIKA SEDERHANA, AKAL SEHAT DAN HATI NURANI
Tiap hari kita mendengarkan dan menyaksikan berita-berita politik dari negeri tercinta, baik melalui koran-koran, tabloid-tabloid, TV, website-website atau situs-situs pribadi yang menjamur di era internet yang gampang ditemukan setelah kita 'google'in', yang ujung-ujungnya ( UUD ) nya adalah syahwat kekuasaan. Hampir semua penggila kedudukan dan pemuja kekuasaan atau tahta menebarkan janji-janji manis bak angin surga dan retorika berbusa-busa... yang kadang tidak menginjak bumi atau tidak bersentuhan dengan hajat real/ nyata kehidupan rakyat banyak. Saking intensenya bersyahwat kekuasaan, sampai-sampai tiap saat kita disuguhi oleh sajian berita tentang cakar-cakaran atau ontran-ontran seperti saling pecat antar pengurus intern partai, saling klaim keabsahan dan dukungan, saling membuat partai tandingan dan tumbuhnya bejibun partai-partai baru untuk mewadahi syahwat orang-orang yang merasa hebat, merasa tokoh, merasa terkenal dan merasa berjasa kepada rakyat bangsa atau negara ( padahal semua adalah mahluk yang lemah dan pasti akan mati )
Bagi rakyat jelata seperti kami atau orang yang sedikit saja mempunyai hati nurani dan akal sehat, walau kami sadar realita politik, menyaksikan ini semua menjadi mulas/ muak dan bawah sadar kita pasti berbisik...lha ngurus partai sendiri aja acak-acakan tidak becus, lha kok ya nekat dan tidak tahu diri, terus bernafsu untuk berkuasa untuk mengurus negara atau rakyat umum..... pusyiing deh.

Jika ada orang baik, rendah hati, berakhlak mulia, sopan santun, sabar tawakal, ikhlas, berjiwa melayani, sederhana dan memiliki karakter dan kompetensi kememimpinan yang amanah, tulus, penuh kasih dan ingin berkhitmat untuk mengabdi kepada rakyat dengan program-program sederhana yang intinya mengajak dan memberdayakan masyarakat untuk menyambut berkah dan rahmat Yang Maha Kuasa, Maha Kasih dan Maha Memberi, yaitu Tuhan YME, tetapi tidak memiliki akses struktural, legal atau timbunan kapital untuk ‘membeli’ dan menggerakan mesin/ kendaraan politik --- saat ini mungkin belum mendapat tempat dan kesempatan di bumi pertiwi yang sungguh dikaruniai tanah-air yang sangat subur, indah dan kaya-raya akan sumberdaya alam.

Andai saja para penghuni negeri ini, saudara-saudara kita yang memiliki potensi dan kompetensi yang mumpuni di berbagai bidang, terlepas dari tinggi rendahnya pendidikan, asal-usul, latar belakang apapun, tapi dengan hati nuraninya, akal sehat, dan karakter yang kuat berkomitmen untuk mewujudkan negeri yang baldatun toyyibatun warrobbun ghofur --- tinggalkan semua hiruk pikuk , riuh rendah dan cakar-cakaran untuk menuntaskan hasrat dan syahwat jabatan, kedudukan, kekuasaan --- lalu masuklah ke ranah barokah yaitu menyebar keseluruh pelosok denyut nadi kehidupan masyarakat, menebarkan virus pengundang rahmat yaitu mensyukuri karunia hidup dari Allah dengan sibuk bekerja, beramal shaleh, berkarya nyata yang manfaat, berinovasi dengan dedikasi dan etos tinggi dengan ikhlas niat ibadah untuk kepentingan, kemajuan dan kesejahteraaan rakyat banyak sesuai dengan keahlian dan bidangnya masing-masing.


Misalnya, yang sepele-sepele saja:

MISALNYA DEPARTEMEN/ DINAS PERTANIAN
( di tiap-tiap pemda/ kecamatan/ desa )
Program penanaman 1000 pohon buah-buahan, 1000 pohon lombok, cabe, bawang putih, bawang merah dll bumbu-bumbuan, 1000 pohon kangkung, bayam, kacang panjang, dll sayur-sayuran, baik di lahan-lahan kosong, halaman-halaman rumah, pot-pot, vas-vas atau tabung-tabung bambu hydroponic, secara regular dan kontinyu di tiap-tiap RT per bulan dan bukan program instant untuk menipu lewat proposal agar mendapat bantuan uang rakyat dari kas APBD/APBN ( yang pertanggung jawabanya penuh rekayasa dan manipulasi tertulis di kertas sangat rapi dan sesuai ketentuan tetapi dananya tidak kena sasaran dan hanya menguap di kantong aktor-aktor senseless, raja tega/ juragan licik/ broker-broker politik dan struktural yang penuh syahwat dan setelah sekali selesai program semua berantakan mandeg dan terbengkelai tengah jalan )

BEBERAPA MANFAAT DAN HIKMAH PROGRAM TERSEBUT DIANTARANYA:
1. Semua lingkungan menjadi hijau segar, asri, sejuk, teduh, nyaman dan sehat karena oksigen melimpah yang Alloh karuniakan melalui jutaan daun-daun pepohonan yang rindang yang juga menangkal debu dan menyerap air, sehingga tidak banjir saat hujan dan sumur-sumur air tanah tidak pernah kering di musim apapun.
2. Hewan-hewan penyangga keseimbangan alam akan lestari dengan siklus dan rantai makanan yang teratur; dengan tidak punahnya hewan-hewan, anak cucu kita generasi mendatang masih bisa melihat binatang-binatang asli tidak hanya lewat gambar-gambar atau dongeng orang tuanya.
3. Menambah gizi dan kesehatan warga/ keluarga/ masyarakat karena terpenuhi asupan sayur dan buah yang segar tanpa bahan kimiawi atau pengawet. Dengan gizi yang baik otak dan tubuh akan berkembang baik sehingga generasi mendatang lebih baik, bukan generasi subhat karena makanan kemasan kaleng/ pastik produk industri pemilik modal besar yang tidak bertanggung jawab dengan pengawet, pewarna, dan zat-zat kimiawi subhat lainya yang berbahaya.
4. Mengurangi beban pengeluaran belanja keluarga dan masyarakat karena sebagian bahan makanan diproduksi secara swadaya; dan otomatis menambah pendapatan dan kesejahteraan keluarga karena beban dan biaya hidup lain bisa semakin ringan.
5. Melatih seluruh anggota keluarga agar rajin bekerja dan tidak menjadi mahluk pemalas dengan cara bergantian merawat tanam-tanaman tersebut dengan penuh rasa senang dan kasih sayang menyiramnya secara teratur, memupuk dll --- daripada waktu habis untuk kongkow-kongkow/ tongkrongan sambil menggoda gadis-gadis/ memalak orang-orang lewat, nggosip-nggosip yang menimbulkan kemarahan, perpecahan, kebencian dan fitnah, merokok/membakar uang atau berpikiran/ berperilaku negatif, kurang terpuji dan tidak produktif lainnya seperti menghujat, berdemo berdarah-darah dengan teriakan-teriakan penuh permusuhan, kebengisan dan kekerasan, merusak sarana publik secara anarkis dll. ketidakberadaban )
6. Melatih dan mendidik semua anak-anak dan warga lainya untuk bersifat jujur dan berjiwa ksatria dengan cara tidak merusak/ tidak mencuri/ tidak merampas atau tidak merampok buah atau sayuran milik tetangga karena masing masing keluarga memilikinya.
7. Memupuk semangat kerjasama, kekeluargaan, kekompakan, saling menjaga dan saling membantu antar keluarga dan warga sehingga suasana kehidupan masyarakat dan pergaulan lingkungan menjadi aman, damai, tentram, sejuk dan menyenangkan/ membetahkan.
8. Dan untuk memotivasi, mengapresiasi dan memberikan pengakuan 'acknowledgement' atas prestasi dan kinerja semua anggota masyarakat serta mendorong peningkatan produksi dan kwalitas hasil, secara berkala diadakan pantauan, bantuan dan pembimbingan teknis dari petugas dinas terkait tentang produk yang sehat --- juga bisa diadakan kontest produk yang - ter.... misalnya terong terbesar, timun terpanjang, waluh terberat, mangga terbesar termanis, bawang terbesar, kangkung tersubur, bayam terbaik dll. yang hasilnya dilelang atau dipamerkan atau dilombakan ke tingkat yang lebih tinggi dan pemenangnya diberi hadiah walau hanya semacam sertifikat kertas dan diumumkan di acara publik lokal sebagai wahana kehangatan sosial-kemsyarakatan ---
--- YANG LAGI-LAGI HARUS DIJAUHKAN DARI INTEREST ATAU KEPENTINGAN ATAU AGENDA ATAU IKLAN-IKLAN POLITIK ---
8. Kalau semua dapat berjalan dengan baik sebagaimana mestinya, insyaAllah, rahmat barokah Allah Tuhan YME akan datang dan tercurah di bumi yang masyarakatnya beramal shaleh dan berlomba-lomba dalam kebajikan, berakhlak dan berperilaku mulia sehingga ketentraman, kedamaian, keharmonisan, kemakmuran dan kesejahteraan lahir bathin bisa terwujud.
Dan menurut kami inilah amalan agama yang nyata....

Den Haag, 20 April 2008

Salam,
wongndeso/ earth-touchingdew