Monday, 22 August 2016

MALAIKAT DI DALAM DIRI


“Ia yang di dalamnya cahaya akan berjumpa cahaya di mana-mana”
Kerinduan mendalam akan tokoh yang layak ditauladani, itu salah satu bentuk kerinduan generasi muda di zaman ini. Jika di negara-negara berkembang manusia kekurangan tokoh bisa dimaklumi. Namun jika di negara maju yang makmur juga kelangkaan tokoh, sungguh itu sebuah kesedihan mendalam.
Seorang sahabat yang berhati indah sempat terkejut tatkala pertama kali mendengar kalau ada calon presiden dari Amerika Serikat yang menggunakan ancaman terhadap agama orang lain sebagai tema kampanye. Amerika Serikat sudah lama menjadi pemimpin terdepan dalam hal demokrasi dan hak-hak azasi manusia, namun bagaimana mungkin di sana ada ancaman terhadap agama orang lain di depan publik?

Suka tidak suka, itulah putaran zaman. Ia adalah masukan terang benderang kalau tersedia semakin sedikit tokoh tauladan di mana-mana. Ia juga menjadi masukan terang benderang kalau tersedia semakin sedikit cahaya di luar. Sekaligus menjadi sebuah undangan untuk menemukan cahaya di dalam.
Belajar dari para sahabat yang membuka rahasia dirinya di sesi-sesi meditasi, banyak sekali manusia yang teramat rindu akan orang tua yang penyayang, rindu saudara dekat yang mau menerima, atau rindu sahabat dekat yang mau mendengarkan. Ia semacam kerinduan akan hadirnya cahaya.
Sedihnya, semakin keras para sahabat meminta orang-orang di luar untuk menyayangi, memaafkan, mendengarkan, semakin mereka kecewa karena harapan mereka tidak pernah kunjung datang. Orang tua sudah sangat berat dengan beban tubuhnya yang menua. Saudara dekat sudah berat menggendong beban keluarganya. Lebih-lebih para sahabat yang tidak memiliki hubungan darah. Belum apa-apa mereka sudah takut ketularan.
Semua pengalaman ini membimbing banyak sahabat pada sebuah pilihan yakni menemukan malaikat penyelamat di dalam diri. Tidak mudah tentu saja. Namun tidak ada pilihan lain. Di zaman yang demikian gelap ini, cahaya di dalamlah yang paling bisa diandalkan.
Sebagai langkah permulaan, sangat-sangat disarankan untuk belajar memaafkan diri sendiri. Segelap apa pun masa lalu, selalu sehat untuk memaafkan diri sendiri. Memaafkan bukan tanda jiwa yang lemah. Sebaliknya, memaafkan adalah piala bagi jiwa-jiwa yang sangat kuat. Hanya ia yang kuat yang memiliki kemampuan untuk memaafkan.
Setelah memaafkan diri sendiri, indah kalau bisa belajar untuk melihat sisi-sisi berkah dari semua musibah. Berkahnya orang tua tidak peduli, ia membuat seseorang jadi mandiri. Berkahnya saudara dekat yang tidak bersahabat, mereka mengajarkan untuk selalu rendah hati. Berkahnya atasan pemarah, ia membuat kita untuk semakin sabar dari hari ke hari.
Begitu benih-benih cahaya di dalam mulai muncul karena ketekunan memaafkan dan menerima, bagus kalau belajar banyak tersenyum. Senyuman tidak saja menjadi jembatan penghubung dengan orang-orang di luar, senyuman juga jembatan penghubung dengan jiwa yang bersemayam di dalam.
Siapa saja yang tekun dan tulus berlatih seperti ini, suatu hari keadaan miskin tokoh di luar tidak saja tidak menganggu, tapi juga menghadirkan niat mulya untuk menjadi cahaya penerang bagi banyak orang. Meminjam dari Bunda Teresa, kata-kata indah yang tulus memang sangat pendek, namun pengaruhnya bisa sangat panjang.
“Senyuman adalah sejenis malaikat yang membimbing Anda ke mana pun Anda pergi”
Author: Gede Prama (copied 22-08-2016)

THE WALKING CANDLES 


“Kegelapan yang berjalan”, itu salah satu ciri sahabat yang resah dan gelisah. Logika tidak memberikan jawaban memuaskan, rasa juga serupa. Saran orang lain meragukan, pendapat keluarga mencurigakan. Orang-orang dekat terlihat tidak bersahabat, orang-orang jauh apa lagi. Akibatnya mudah ditebak, semua arah miskin cahaya. Semua langkah menuju arah yang berbahaya.
Dan mengacu pada ramalan WHO (organisasi kesehatan dunia) yang meramalkan kalau mulai tahun 2020 sakit mental akan lebih berbahaya dibandingkan sakit fisik, kuantitas dan kualitas manusia yang di dalamnya gelap tampaknya akan terus bertambah. Ada yang menyebut ini beban, ada juga yang menyebut ini kesempatan.
Di jalan-jalan cahaya, hadirnya kegelapan di sana-sini adalah bel kosmik yang mengundang sebanyak mungkin manusia untuk menjadi pembawa cahaya. Dengan kata lain, ini adalah kesempatan untuk memancarkan cahaya. Bukannya bel kematian bagi pembawa-pembawa cahaya.

Mengacu pada cerita banyak sahabat yang membuka rahasia dirinya di sesi-sesi meditasi, salah satu ciri jiwa yang gelap di dalamnya adalah terlalu sedikit dipuji sejak kecil. Sebaliknya malah terlalu sering dihakimi dan dimaki. Penghakiman keluarga dan lingkungan inilah yang membuat tidak sedikit manusia yang mengunci rapat-rapat ruang jiwanya di dalam sehingga terus menerus gelap.
Itu sebabnya, bisa dipahami kalau pemikir humanis bernama Dale Carnegie pernah mewariskan pesan, pujian bukanlah perkara kecil. Asal dilakukan secara tulus dan halus, dalam kuantitas dan kualitas yang pas, pujian bisa menghadirkan cahaya indah ke ruang gelap orang-orang. Sering terjadi, pujian kecil yang pas dan ringkas bisa membuat seseorang bahagia sepanjang hari.
Terinspirasi dari sini, jangan pernah pelit dengan pujian. Pujian tidak saja gratis, tapi juga bisa menyelamatkan banyak sekali jiwa yang sedang gelap. Pekerjaan rumahnya kemudian, bagaimana melatih diri agar bisa memberikan pujian secara tepat sekaligus menyentuh.
Sejujurnya, setiap jiwa itu unik. Jika statistik mau membuang keunikan melalui pendekatan rata-rata, dalam hubungan antarmanusia justru keunikan itulah jendela dari mana seseorang bisa berbagi cahaya. Oleh karena itu, selalu perhatikan ciri-ciri unik namun positif dari setiap orang yang dijumpai.
Sebagian wanita suka dengan hal-hal yang berbau kecantikan. Jika suatu hari Anda menemukan teman wanita habis potong rambut, serta terlihat potongan rambutnya menarik, tidak ada salahnya berucap seperti ini: “potongan rambutnya bagus, potong rambut di mana?”. Atau jika lips sticknya berwarna indah, bagus kalau Anda melihat bibirnya sambil bergumam pelan: “lips sticknya merk apa?”.
Jika sebagian wanita suka kecantikan, sebagian pria lebih mudah membuka jendela jiwanya kalau lawan bicaranya mengerti kebanggaan-kebanggaanya. Seorang sahabat pria yang mulai menua suka sekali bercerita tentang pengalamannya naik kapal pesiar. Jika ia diajak berbicara kapal pesiar, ia bisa bercerita berjam-jam tanpa henti.
Melalui pendekatan seperti ini, kecerdasan untuk memuji orang secara pas dan khas bisa membuat Anda menjadi lilin berjalan. Setiap pertanyaan dan pujian menghadirkan kilatan-kilatan cahaya ke dalam ruang-ruang gelap orang lain. Dan ia tidak saja membuat jiwa orang lain jadi terang, tapi juga membuat jiwa Anda tambah indah dari hari ke hari.
Penulis: Gede Prama (copied 22-8-2016)

Friday, 7 August 2015

Lima Tarbiyah Harian



5 (LIMA) TARBIYAH HARIAN
Jaga dan Tingkatkan (JATI):
                                     
1. Kerapian, kerajinan dan kebersihan                    lingkungan sekolah   
 
2. Toleransi, kekompakan dan kebersamaan           warga sekolah.
3. Keamanan, keselamatan  dan martabat diri dan lembaga sekolah.
4. Determinasi, semangat dan motivasi belajar untuk berprestasi, maju dan sukses.

5. Silaturahmi, koordinasi dan komunikasi antar warga sekolah

Karakter Ksatria



Ciri-ciri Watak Ksatria 
1. Kehadiranya dimanapun kapanpun membawa manfaat dan berkah, tidak menjadi atau membuat masalah tetapi menjadi penyelesai masalah/ menjadi solusi.
2. Tidak adigang adigung adiguna  tetapi berwatak, berperilaku dan bersikap andap asor/ tawadhu) dan tidak jubriya rikikahlim mama sugifi (ujub-riya-iri-dengki-serakah-dlolim-marah-maksiat-sumáh-ghibah-fitnah)
3. Luhur  dalam adab, ahlaq mulia,tulus  dalam berdharma-bakti dan amal sholeh, tidak egois, tidak cari enaknya sendiri, tidak cari menangnya sendiri dan tidak cari untungnya sendiri.
4. Bermartabat, berintegritas dan bertanggungjawab (tidak pengecut, tidak adu domba, tidak menjadi kompor/ provokator  keburukan, perpecahan, fitnah dan kerusakan)
5. Kalau menjumpai kesulitan, tantangan atau masalah, akan dihadapinya dengan kepala dingin,  jantan dan tenang, diselesaikan dengan tuntas cerdas arif bijaksana; tidak melarikan diri, menghindar , lepas tangan atau cuci tangan.

Banyumas, 07-08-2015


Monday, 20 April 2009

The Power of Positive Attidudes 4

ARIF, BIJAK DAN PROPORSIONAL
Jika kita dikaruniai oleh Tuhan/ ditakdirkan memiliki kelebihan dalam hal apapun, termasuk kepandaian dalam menulis, menyusun kata-kata, melihat dan membaca femomena, mengekspresikan diri lewat karya-karya, atau kepandaian/ kecakapan lain yang pasti berbeda –beda setiap manusia…arif dan bijaklah dalam memandang dunia…jernih dan proporsionalah dalam mendeskripsikan, mensikapi dan memperlakukan sesama dan fenomena lainnya.

i. Jika kebetulan kita berjumpa dengan sang juara dunia renang misalnya …janganlah kita memaki-maki, mengumpat, memarahi, memperolok-olok atau mengomelinya kalau dia tidak bisa bermain bola dengan baik atau dia tidak mau dan tidak bisa diajak main badminton atau tidak tahu apa-apa tentang olah raga anggar dan balap mobil misalnya.

ii. Kalau kebetulan kita bertemu dengan petani buta huruf yang sedang mencangkul di sawah di desa terpencil misalnya…janganlah kita terus membabi buta ,mengomeli dan memaki-makinya ketika ternyata dia tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis,,,apalagi membuat kalimat, atau paragraph-paragraf yang indah atau karangan yang informative misalnya.

iii. Kalau kita berjumpa dengan seorang petugas kebersihan kota yang rajin, disiplin dan penuh tanggungjawab walau sudah tua renta…seorang tukang sapu jalan yang sederhana dan jujur misalnya …janganlah kita marah, sewot dan membabi buta menuduhnya bodoh atau tidak berjiwa melayani ketika dia tidak bisa memberikan informasi tentang sistem perbankan, perpajakan, jaminan social, konstruksi jembatan, teknik bangunan atau manajemen kependudukan misalnya…

iv. Kalau kebetulan kita berjumpa dengan seekor kucing di jalan misalnya… janganlah kita menuduhnya sombong atau arrogant ketika dia tidak bisa dan tidak mau berbicara dengan kita,,,janganlah kita sewot, marah, memaki-maki dan menyalahkan serta mencelanya kenapa dia berjalan dengan kaki empat, kenapa dia berbulu, kenapa dia tidak naik sepeda atau tidak memakai baju misalnya…

v. Jika kebetulan kita tidak sengaja menabrak pohon misalnya… entah karena meleng (kurang hati-hati) atau oleng (mabuk/ sempoyongan) atau gembeleng (berhaha-hihi/ petantang-petenteng) misalnya… janganlah sewot, memaki-maki dan menyalahkan pohon itu…janganlah menggerutu, memarahinya dan mencelanya…dan janganlah menyumpah serapahinya…misalnya dengan gerutuan sbb;..hai pohon,,,kenapa kamu tumbuh disini...kenapa kamu tidak minggir ketika badanku akan menabrak…kenapa kamu tidak berbicara dan mengingatkan aku…kenapa kamu besar…kenapa kulitmu kasar…kenapa daunmu hijau tidak putih seperti wajah istriku…dst..dst..dst…ha ha ha....Hidup itu terlalu indah untuk digerutuin Man…Peace!!!…
Den Haag, 19 April 2009
hambasahaja-rakyatjelata
s.s.

Sunday, 15 March 2009

The Power of Positive Attidudes 3

HIDUP INDAH SEJUK DENGAN IKHLAS

1. HATI YANG BERSIH---HIDUP TENTRAM, DAMAI, INDAH DAN BERKAH
Berjiwa besar,watak ksatria dan sikap yang bijaksana, adil, matang, dewasa, rendah hati; menggalang persahabatan dengan saling menghargai, saling menghormati, saling toleransi dan saling memahami; bermasyarakat dan bersaudara dengan berbaik sangka, saling manasehati dengan adab, tutur kata dan serta bahasa yang baik penuh hikmah, kasih sayang dan kesabaran; bergaul dengan ramah, damai/salam, sopan santun, berkontribusi/ berbagi ilmu dan apa saja dengan keihklasan, melayani dengan tulus dan penuh kehangatan. Saling memberi semangat dalam perjuangan dan pengabdian untuk kebaikan, kemajuan dan manfaat bersama dengan cara yang santun, terhormat dan bermartabat.

2. HATI YANG SAKIT---HIDUP RESAH YANG MENIMBULKAN MUSIBAH
Jubriya: Ujub ( bangga diri ), riya ( memamer-mamerkan keunggulan/ kelebihan diri ); Riki: Iri dan dengki ( tidak perlu paraphrase ); kahlim: serakah dan dlolim ( menyakiti/ merugikan/ menganiaya orang lain yang tidak bersalah dan tidak berdosa, baik dengan verbal maupun non verbal, baik fisik maupun non fisik, baik besar maupun kecil, baik tersembunyi atau terang-terangan baik halus maupun kasar ); sewot, membabi buta, menggerutu, me’ngeblame’/ menyalahkan orang lain, mencari kambing hitam, merendahkan/melecehkan orang lain, selalu mencari kelemahan dan kejelekan orang pihak lain; merasa susah/sedih kalau melihat/mengetahui orang lain senang,maju,berhasil atau sukses; dan sebaliknya, merasa senang/girang kalau melihat/mengetahui orang/pihak lain susah atau gagal; Picik, egois, memaksakan kehendak sendiri, mencari benarnya sendiri, tidak mau menerima argument/penjelasan orang lain… walupun didukung fakta data akurat ….kalau tidak sesuai dengan selera/pandangan pribadinya; menganalisis/ menyimpulkan/ menilai orang/pihak lain secara sepihak dan berburuk sangka tanpa check-cross check/ tabayyun; Mencari pemuasan ego dan narsismenya dengan suka kalau berhasil mencari musuh, memancing perdebatan/ pertengkaran yang tidak sehat, bersifat aggressive baik verbal maupun non verbal walaupun semua tidak disadarinya dan semaikin membabi buta kalau diingatkan atau di counter attack.

IBARAT/ ANALOGI:
1. Orang yang bersih hati dan ikhlas ibarat matahari yang …. dengan setia, ikhlas/tanpa minta sanjungan, tanpa minta sambutan, tanpa minta tanggapan, tanpa minta imbalan, tanpa menuntut pujian, tanpa mengharap sanjungan…. senantiasa memancarkan sinarnya dengan energy cahaya dan panas/hangatnya sebagi sumber kehidupan bagi manfaat segala mahluk hidup atau mati di seluruh bumi dan tata surya yang mampu dijangkaunya. Maha Besar Allah Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah menciptakan semuanya dengan segala rahmat dan berkahnya yang tak terhingga banyaknya dan tak ternilai harganya.

2. Orang yang tidak ikhlas ibarat orang yang merasa hebat telah ‘merasa’ menyumbangkan sesuatu yang hebat dan banyak…ibarati dermawan yang telah ‘merasa’ memberikan berton-ton beras bagi orang yang dianggap miskin dan kelaparan…tetapi memberikanya dengan penuh kejumawaan/ arrogansi, dengan mencaci-maki , dengan mengomel –ngomel tentang keburukan, kelemahan, kekurangan, kemalasan dan kebodohan pihak yang diberi. Dalam pandangan spiritual, perilaku orang yang merasa hebat telah ‘merasa’ banyak beramal/ berbuat / menyumbangkan kebaikan sampai menepuk-nepuk dada sambil berjingkrak-jingkrak menghiba-hiba agar ‘diakui/disanjung’ oleh seluruh dunia seisinya, di mata Yang Maha Menentukan Kehidupan/Mematikan….perbuatannya akan sia-sia , ibarat hangusnya timbunan-timbunan kayu bakar kering yang menghacurkan hijau sejuknya hutan dan menimbulkan panas/sangarnya pergaulan dan kehidupan.

Den Haag, 15 Maret 2009
Salam,
Hamba sahaja, wong ndeso rakyat jelata

Sunday, 1 March 2009

The Power of Positive Attidudes 2

Kasih Sayang

Kasihilah penghuni bumi, niscaya engkau dikasihi penghuni langit. Muhammad Rasulullah Dalam hadis di atas, yang dimaksud ''penghuni langit'' adalah Allah dan para malaikatNya. Adapun ''penghuni bumi'' yang patut dikasihi dan sekaligus dikasihani, merujuk riwayat Abu Hurairah, yaitu segala yang bernyawa. Dengan demikian, menolong mereka -- termasuk memberi air kepada anjing yang kehausan, seperti disabdakan Rasulullah -- berpahala. Tak mengherankan bila kemudian para sahabat Nabi SAW saling berlomba untuk mengasihi para penghuni bumi. Abu Darda, misalnya, begitu sayang kepada burung. Ia berkeliling mendekati anak-anak untuk membeli burung mereka. Ia lalu melepas burung-burung itu seraya berkata, ''Terbanglah, dan kamu bebas mencari penghidupan sendiri.''

Rahmat Allah yang oleh Alquran disebut mencakup segala sesuatu (wasi'at kulla syai'in), seluruh nikmat yang kita rasakan, barulah satu dari seratus rahmat-Nya. Sedang 99 rahmat yang lain sementara masih ditahan, dan seperti dikatakan Rasulullah, akan diberikan khusus kepada hamba-hambanya yang beriman yang di dalam dirinya terdapat getaran cinta. Sabda Rasulullah: ''Yang bisa masuk surga hanyalah orang yang mempunyai rasa belas kasihan.''Menebar rasa cinta haruslah menyeluruh, tidak pandang bulu, bahkan kepada para preman atau bangsat sekalipun. Kepada mereka, kita tidak boleh mengutuk dan mengumbar dendam. Rasulullah SAW, bahkan, menyuruh kita prihatin dan mendoakan mereka: Alhamumma irhamhu. Allahumma tub 'alaihi (Ya Allah, kasihanilah dia. Ya Allah, ampunilah dia). Kasih sayang (rahmah) juga berarti harapan agar seseorang kembali ke pangkuan Ilahi. Seorang sufi Syaqiq al-Zahid mengatakan: ''Pada saat kamu teringat atau bertemu orang jahat, kemudian kamu tidak merasa belas kasihan kepadanya, berarti kamu lebih jahat dari dia.'' Cinta kepada sesama adalah tolok ukur iman seseorang. Rasulullah SAW menegaskan, ''Bila seseorang tidak punya rasa belas kasihan terhadap sesamanya, maka Allah pun tidak menaruh kasihan kepadanya.'' (riwayat Bukhari-Muslim).

Bahkan, dalam hadis yang lain disebutkan bahwa salat dan puasa belum cukup membawa seseorang ke surga sampai dadanya bersih dari dendam, hatinya penyayang, dan berbelas kasih terhadap sesama. Khalifah Umar bin Abdul Aziz menjelaskan, amal yang paling disenangi Allah SWT ada tiga: ''Memberi maaf sewaktu sempat membalas dendam, berlaku adil saat emosi, dan menaruh belas kasihan terhadap sesama hamba Allah.'' Dalam kehidupan kita ini, begitu banyak manusia yang patut dikasihani: yang miskin, yang tak beribu bapak, yang jahat karena terpaksa, yang terkena musibah, dan seterusnya. Mereka adalah makhluk seperti kita, bernyawa. Bedanya, nasib baik belum berpihak kepada mereka. - ahi


By D. Sirojuddin AR/ Republika.online

Jumat, 27 Februari 2009

Sunday, 25 January 2009

The Power of Positive Attitudes

Meraih Kesuksesan dengan 7B

Harta, pangkat, dan jabatan yang sering kali dijadikan tolak ukur kesuksesan, dalam praktiknya kerap menjerumuskan orang pada kesesatan.Semoga Allah Yang Maha Agung mengaruniakan kepada kita kehati-hatian atas kesuksesan. Sebab, orang yang diuji dengan kegagalan ternyata lebih mudah berhasil dibandingkan mereka yang diuji dengan kesuksesan.
Banyak orang yang tahan menghadapi kesulitan, tapi sedikit orang yang tidak tahan ketika menghadapi kemudahan. Ada orang yang bersabar ketika tidak mempunyai harta, tapi banyak orang yang tidak bisa mengendalikan diri saat dikaruniai harta yang melimpah. Ternyata, harta, pangkat, dan jabatan yang sering kali dijadikan tolak ukur kesuksesan, dalam praktiknya kerap menjerumuskan orang pada kesesatan.
Apa sebenarnya kesuksesan itu? Boleh jadi setiap orang memiliki pandangan berbeda mengenai kesuksesan. Namun secara sederhana, sukses bisa dikatakan sebagai keberhasilan akan tercapainya sesuatu yang telah ditargetkan. Dalam pandangan Islam, kesuksesan tidak sekadar aspek dunia belaka, tapi menyentuh pula aspek akhirat.
Kesuksesan, setidaknya mencakup lima hal. Pertama, kalau aktivitas yang kita lakukan menjadi suatu amal. Apalah artinya kita banyak berbuat kalau tidak bernilai amal. Kedua, bila nama kita semakin baik. Apalah artinya kita mendapatkan uang, mendapatkan harta atau kedudukan kalau nama kita coreng-moreng. Ketiga, kalau kita terus bertambah ilmu, pengalaman, dan wawasan. Apalah artinya jika harta bertambah, tetapi ilmu dan pahala tidak bertambah. Bila ini yang terjadi, kita hanya akan terjebak oleh harta yang kita miliki.Keempat, kita disebut sukses kalau kita dapat menjalin silaturahmi dengan orang lain, sehingga bertambah saudara. Apalah artinya mendapatkan uang dan kedudukan, tetapi musuh kita bertambah banyak. Dengan terjalin silaturahmi, insya Allah akan semakin banyak orang yang mencintai kita. Bila orang sudah cinta, maka ia akan mengerahkan ilmunya untuk menambah ilmu kita, mencurahkan wawasannya untuk mengembangkan wawasan kita, serta memberikan tenaga dan hartanya untuk melindungi kita.Kelima, kita disebut sukses bila pekerjaan yang kita lakukan dapat memberikan manfaat yang besar kepada orang lain. Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling banyak manfaatnya". Semakin banyak menjadi jalan kesuksesan bagi orang lain, maka semakin sukseslah diri kita.Pada hakikatnya kesuksesan itu milik setiap orang. Yang menjadi masalah, tidak semua orang tahu bagaimana cara mendapatkan kesuksesan itu.
Setidaknya ada tujuh formula yang dapat kita lakukan untuk meraih kesuksesan tersebut. Saya menyebutnya dengan 7B. Ketujuh teknik ini harus ada semuanya, jika salah satu tidak ada, maka belum bisa dikatakan sebuah kesuksesan.
B pertama, beribadah dengan benar. Ibadah adalah fondasi dari niat, fondasi dari track yang akan kita buat. Siapapun yang ingin membangun kesuksesan, ia harus memperbaiki ibadahnya. Perbaiki, terus perbaiki ibadah. Siapa yang akan membimbing kita jika ibadah kita buruk? Siapa yang akan melindungi kita dari ketergelinciran kalau ibadah kita tidak jalan? Bukankah Allah SWT berjanji akan menolong orang-orang yang ibadahnya baik. Intinya, ibadah adalah fondasi yang akan membuat kita agar senantiasa terjaga dalam jalur yang tepat.
B kedua, berakhlak baik. Akhlak yang baik adalah bukti dari ibadah yang benar. Apapun yang kita lakukan, kalau dilandasi akhlak yang buruk niscaya akan berakhir dengan kehancuran. Apa yang dimaksud akhlak yang baik itu? Merespons segala sesuatu dengan sikap yang terbaik.
B ketiga, belajar tiada henti. Karena itu, pertanyaan yang harus kita ajukan adalah apakah kita menyukai belajar? Setiap hari masalah bertambah, kebutuhan bertambah, dan situasi berubah. Bagaimana mungkin kita menyikapi situasi yang terus berubah dengan ilmu yang tidak bertambah!
B keempat, bekerja keras dengan cerdas dan ikhlas. Curahan keringat tak selalu identik dengan kesuksesan. Berpikir cerdas adalah merupakan bagian dari kerja keras. Pada prinsipnya, sebuah hasil yang maksimal akan diraih bila kita mampu mengaktualisasikan ibadah, akhlak, dan ilmu kita dalam pekerjaan yang berkualitas.
B kelima, bersahaja dalam hidup. Ini poin yang sangat penting. Banyak orang bekerja keras dan mendapatkan apa yang dia inginkan, tetapi dia tidak dapat mengendalikan dirinya. Bersahaja itu bukan miskin, bersahaja adalah menggunakan sesuatu sesuai keperluan. Dengan bersahaja kita akan memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri dengan tidak diperbudak keinginan.
B keenam, bantu sesama. Gemar membantu orang lain adalah tanda kesuksesan. Kita harus gigih agar kelebihan yang kita miliki dapat menjadi nilai tambah bagi sesama.
B ketujuh, bersihkan hati selalu. Bila hati kita berpenyakit, maka akan tumbuh rasa ujub, ria, sum'ah, takabur, dan lainnya. Kondisi ini akan membuat amal-amal kita tidak berarti; tidak indah lagi di dunia dan tidak berkah lagi untuk akhirat. Allah SWT berfirman, Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat (QS. Asy-Syu'ara: 88-89).Andaikata formula ini kita lakukan dengan baik, Insya Allah akan berdampak untuk kesuksesan diri, berdampak pada lingkungan, dan pada saat yang sama berdampak pula pada kesuksesan kita di akhirat. Wallahu a'lam bishawab.

KH Abdullah Gymnastiar/dokrep/Agustus 2004

By Republika NewsroomJumat, 09 Januari 2009